This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Sabtu, 14 Mei 2016

Antara Pesantren Dan Demokrasi






Sebagaimana yang kita pahami bahwa demokrasi merupakan sistem negara yang menitik beratkan kekuasaan di tangan rakyat.  Istilah demokrasi berasal dari bahasa yunani dari kata demokrata yang berarti kekuasaan di tangan  rakyat. Dengan demikian, maka rakyat mempunyai peran penting dalam menentukan kemajuan sebuah negara, lantaran pemimpin negara dipilih langsung oleh rakyat.  Sehingga, ratyatlah yang mempunyai kedaulatan tertinggi.

Kalangan agama Islam di belahan dunia, terlebih di kawasan Timur Tengah, sistem demokrasi menuai sorotan yang begitu tajam. Selain memberikan alasan ideologis, mereka menyatakan bahwa demokrasi merupakan produk orang barat yang tentunya didominasi oleh kalangan orang kafir. Hal ini menurut mereka dapat mengakibatkan fatal ketika pemimpin di pegang oleh orang yang bukan ahlinya. Karena, dalam demokrasi semua orang atau rakyat dapat menjadi pemimpin. Sebagaimana dalam hadits nabi menyatakan bahwa ketika sebuah negara dipimpin oleh orang yang bukan ahlinya, maka tunggu saat kehancurannya. Namun, ada cendikiawan muslim yang tetap kokoh dalam membela sistem demokrasi. Sebut saja salah satunya adalah Ali Abdur Raziq, seorang sarjana mesir yang menyatakan bahwa Islam tidak memberikan ketentuan khusus dalam menjalankan sistem pemerintahannya. Sehingga, suatu negara diperkenanka untuk membuat sistem pemerintahannya masing-masing.

Dari berbagai kontroversi yang ada, lantas bagaimana posisi pesantren dalam menanggapi iklim pemerintahan demokrasi khususnya di Indonesia?. Kita telah tahu, bahwa pesantren merupakan institusi keagamaan yang tentu dalam segala bentuk tindakannya mempunyai landasan teoritis yang ilmiyah. Hal ini lantaran dipicu oleh peran para kiai yang sudah tidak diragukan lagi dalam memahami ilmu agama. Namun, jika kita melirik pada sejarah pergulatan politik yang terjadi di Indonesia, mulai dari orde lama, orde baru bahkan sampai masa reformasi, pesantren merupakan lembaga yang responsip terhadap hangatnya iklim politik di Indonesia. Kita lihat, sejak masa kemerdekaan, pesantren tidak hanya respon dalam sistem demokrasi di Indonesia, melaikan juga ikut andil dalam mewarnai pergulatan politik di Indonesia. Seperti pernah membentuk partai politik semisal Masyumi, NU, dan Perti.

Jika kita memantau khasanah Islam klasik, maka akan kita temukan bahwa perpolitikan sangat diharamkan. Tidak hanya itu, kalangan Islam yang mengikuti aliran wabisme, secara tegas menyatakan bahwa politik adalah bid’ah yang kaitannya adalah sesat. Sebagaimana interpretasi kaum wahabi yang mengklaim bahwa semua bid’ah sesat dan pada akhirnya pasti masuk neraka. Lain seperti intrepratsi kalangan sunni, yang masih memerinci istilah bid’ah dalam hadis nabi tersebut. Yakni, Bid’ah Hasanah dan Bid’ah Sayyi’ah.

Sejak Indonesia merdeka, kontrubusi pesantren dalam iklmi demokrasi Indonesia sangat nampak. Sebut saja seperti peran kiai dalam membentuk rancangan Pancasila. Salah satu diantara anggotanya adalah KH. Wahid Hasyim yang merupakan putra dari pendiri organisasi keagamaan terbesar di Indonesia, Nahldatul Ulama’, KH. Hasyim Asy’ari. Ia membenarkan sistem demokrasi yang diterapkan di Indonesia. Tidak hanya itu, berlanjut pada masa berikutya, pesantren memberikan sumbangsing dalam perpolitikan yang kokoh. Awalnya, semua pesantren terhimpun dalam partai Islam semisal NU, Masyumi dan Perti. Namun, karena semakin sadar dan mengertinya pergulatan politik di Indonesia, para kiai ataupun tokoh Islam melebarkan sayapnya pada partai nasioanal seperti Golkar, atau patai nasional lainnya.

Kini, dalam dunia pesantren sendiri telah banyak diajarkan tentang sistem demokrasi di Indonesia. Baik secara teoritis dengan memberikan pelajaran kewarganegaraan pada santri, maupun secara praktis dengan memberikan pembelajaran dalam pemilihan ketua, pembentukan organisasi otonom, melakukan sidang-sidang bahkan juga mengatur sebuah siasat dalam merebut sebuat kekuasaan. Namun, di pesantren, iklim seperti ini hanya sebagai wahana miniatur yang orientasinya adalah belajar. Dalam artian, tetap senantiasa menjadikan sosok kiai sebagai tokoh sentral yang mempunyai kekuatan hukum final. Akhirnya, dengan berbagai macam pembelajaran yang diterapkan di pesantren, santri tidak melulu berperan sebagai kiai atau tokoh masyarakat, melainkan juga telah terbukti banyak santri yang telah berkiprah menjadi tokoh politik, Dewan Perwakilan Rakyat, wartawan, bahkan juga tak jarang yang telah menjadi kepala daerah.

Dengan demikian, maka pesantren selain tetap konsisten dalam kepentinngan institionalnya, juga siap dalam menerjemahkan nilai-nilai manusia modern. Termasuk dalam memaknai arti demokrasi itu sendiri. Disamping itu, lantaran memang pesantren merupakan lemabaga pendidikan Islam tertua yang bertanggung jawab untuk menjelaskan Islam dalam kegandrungan manusia modern saat ini. Selain itu, tidak harus serta merta menjadi tanggung utama pesantren, melainkan juga umat Islam seluruhnya dalam mengartikan dan menyadari arti demokrasi itu sendiri.  

Sumber Bacaan :
Pesantren, Pendidikan Kewarganegaraan dan Demokrasi, 2009.
Mujail Qomar. Pesantren Dari Transformasi Metodologi Menuju Demokrasi Institusi, 2002. 

Kamis, 05 Mei 2016

Refleksi Peringatan Isro' Mi'roj

Peringatan Isro' Mi'roj kali ini membuat saya glabakan. Ya, glabakan tidak karuan saat memberikan materi tentang Refleksi Acara Isro' Mi'roj pada sebuah instansi pendidikan. Bukan karena pesertanya yang didominasi oleh perempuan, melaikan saat ada peserta bertanya tentang ayat:
إِلَى الْمَسْجِدِ الأقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ
yang artinya kurang lebih begini :"sampai masjid Al-Aqsho yang telah kami berkahi”. Mungkin, inspirasi pertanyaan ini lantaran di awal penjelasan, saya menampilkan ayat tersebut. Peserta yang juga bagian dari panitia itu, tiba-tiba muncul dari luar ruangan dan mengacungkan jarinya. “Ustad tadi disebutkan, masjid Al-Aqsho katanya diberkahi di sekelilingnya, tapi mengapa sekarang sering terjadi peperangan?” saut siswi kelas XI itu saat sesi pertanyaan. Allamak, tak ada reaksi lain, kecuali saya menyeruput kopi sambil merenung jawaban. Ah, ya, itu tidak lain tidak bukan sebuah trik. “tak saya sangka anak tingkat SMA bisa bertanya seperti itu” guman saya. Akhirnya, dengan suara pelan saya menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan barokah itu adalah tambahnya kebaikan terutama dalam hal agama, seperti banyaknya rosul yang diangkat di daerah Palestina. Sehingga, peperangan yang ada saat ini tidak berpengaruh terhadap lemahnya ayat itu. Malah justru, dengan adanya peperangan akan banyak kebaikan dari sisi agamanya. Jawaban ini muncul dari otak saya, lantaran memang sudah sering mendengar penjelasan apa itu barokah.
Setelah acara usai, saya pun masih penasaran tentang ayat itu. Tak lama setelah menyantap makanan hasil berkat tadi, saya pun langsung menelusurinya. Dan akhirnya jawaban saya tidak melenceng begitu jauh. Begini, dalam tafsir kabir disebutkan:
( والذي باركنا حوله ) صفة مدح لإزالة اشتراط عارض ، وبركته بما خص به من الخيرات الدينية كالنبوة والشرائع والرسل الذين كانوا في ذلك القطر ونواحيه ونواديه ، والدنياوية من كثرة الأشجار والأنهار ، وطيب الأرض . وفي الحديث " أنه تعالى بارك فيما بين العريش إلى الفرات ، وخص فلسطين بالتقديس "
Dari pertanyaan ini disebutkan bahwa yang dimaksud dengan “barokah” di sekeliling Palestina adalah kebaikan pertama yang sifatnya agama seperti banyaknya nabi yang diangkat menjadi rasul. Yang kedua, kebaikan dunia seperti ditumbuhi pepohonan dan dialiri air disekitarnya.
Sementara, pengertian barokah itu sendiri adalah;
البركة: هي الزيادة والنماء من حيث لا يوجد بالحس ظاهرا
 Barakah adalah bertambah yang sekiranya tidak diketahui secara lahiriyah.
Ya, sedikit saya merasakan ketenangan setelah membaca beberapa penjelasan tersebut.

    

Jumat, 29 April 2016

Terjebak Dalam Orasi Bisnis



Siang itu, suasana kantor menjadi geger setelah menerima sepucuk surat dari Kelompok Bimbingan Ibadah Haji KBIH ternama di Jawa Timur. Tak terkecuali saya, yang baru datang mengajar teman-teman santri. Dalam undangan tersebut dipaparkan untuk menghadiri pelatihan MUTAWIF (Pemandu Ibadah Umrah) yang langsung diselenggarakan oleh KBIH tersebut. Dan yang membuat saya dan teman-teman terkejut, adalah karena di bawah undangan itu tertera tulisan “Bagi 5 peserta terbaik, langsung mendapatkan tiket umrah gratis”. Ayo, siapa yang tidak terkejut dengan iming-iming ini?. Bayangan saya pun waktu itu sudah memakai baju putih separuh badan, dengan hati khusyuk mengelilingi Ka’bah di Makah. Ditambah, dapat berziarah ke makam Rasulullah. (Ah, sungguh terhipnotis imajinasi saya waktu itu. Dan entah hilang kemana nalar kritis saya).  Selain itu, acara ini ditempatkan di salah satu Hotel kota Malang. Hotel, bagi kalangan santri termasuk tempat yang istimewa, lantaran santri lebih sering berada di tempat tradisional tak ber-AC. Sehingga inilah salah satu yang membuat saya dan teman-teman tersedot untuk menghadiri acara tersebut. Tidak hanya itu, biasanya acara pelatihan yang pernah saya ikuti, selalu mendapatkan uang transport, (lumayan, itung-itung buat tambahan membeli sebungkus rokok). Saya yakin, perasaan saya ini tak jauh berebeda dengan perasaan teman-teman saya, sekalipun dengan bentuk imjinasi yang berbeda. 

Malamnya, sebelum hari pelaksanaan acara itu tiba, saya terus membayangkan dan mengangan-angan materi ibadah umroh-haji yang nyaris lupa semua, lantaran tidak pernah saya pelajari mulai dulu waktu sekolah Madrasah Diniyah.  Bayangan saya, acara tersebut sebuah kompetisi. Jadi butuh persiapan matang. Lagi-lagi hanya meraba-raba bayangan optimis mendapatkan bonus umroh gratis. Tak sedikitpun menalar kritis status penyelenggaraan acara tersebut. Dan tujuan acara itu diselenggarakan.
**********

Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba. Cuaca cerah, seakan memberi semangat atas rasa optimis saya (umrah gratis, hehe). Kemudian dengan segala persiapan, saya dan lima teman saya berangkat mengendarai sepeda motor. Salip-menyalip seperti ajang kompetisi balap liar terjadi di sepanjang jalan. Dan akhirnya tibalah di tempat hotel tersebut dengan perasaan terhormat. Sungguh hati-hati kami berjalan. Khawatir ada langkah yang salah. Atau salah masuk ruangan. Sehingga, takut dikira orang desa yang tak pernah masuk kota (padahal memang iya, heh).  Kemudian setelah sampai di ruang resepsionis,Petugas hotel menyambut dengan semunyan manis. Dan mempersilahkan untuk menuju lantai III (Karena, seingat saya dalam undangannya memang di lantai III).

Seperti acara pelatihan pada umumnya, semua perserta wajib mengisi daftar hadir yang telah disediakan oleh panitia. Termasuk saya dan teman-teman. Setelah menerima materi pelatihan, saya dan teman-teman duduk serta siap menyimak pelatihan tersebut. dan bayangan saya masih menggumpal mendapatkan umrah gratis. Dan ingin saya urai dalam kompetisi ini.

Acara pun di mulai, dengan rangkaian pembukaan, kalam wahyu ilahi dan sambutan-sambutan. Nah, selanjutnya akan memasuki acara inti. Tutornya pun ternyata pemilik atau direktur KBIH tersebut. Dan disitulah nalar kritis saya mulai orbit. Bagaimana tidak, tutor pelatihan yang biasa saya ikuti adalah orang indepedent yang ahli dalam bidangnya.  Tapi mengapa acara ini tidak?. Ah, sayapun berusaha melenyapkan nalar itu. Intinya bagaimana caranya saya bisa berkompetisi menjadi peserta terbaik, sehingga mendapatkan umroh gratis.

Dengan berbagai macam materi yang disampaikan, sang tutor  berorasi dengah penuh semangat. Sampai urat lehernya tampak menonjol. Awalnya, materi yang disampaika memang mendidik. Menjelaskan bagaimana menjadi pemandu umroh (Tour Leader) yang baik, apa saja yang perlu dipersiapkan, tantangan-tantangan ketika menjadi pemandu, bahkan juga mengajari doa-doa ketika berangkat umroh dan haji. Sungguh mendidik bukan?. Tapi, perasaan saya tetap menunggu kapan kompetisi peserta terbaik itu dimulai (umroh gratis kawan).

Acara istirahat pun tiba, bertanda sesi pertama usai. Saya dan teman-teman  masih hanya mendapatkan ilmu tentang umrah. Makan siang ditunda setelah sholat. Padahal, perut sudah mulai koar-koar seperti mahasiswa berdemo menuntut pemimpin mensejahterkan rakyatnya. Terpaksa saya dan teman-teman, mencari mushollah yang jauhnya hapir setengah kilo meter. Dan kamipun melaksanakan sholat dhuhur di masjid Jami’ Kota Malang yang jaraknya memang tidak begitu jauh dengan lokasi pelatihan itu.

Dengan hati tenang, tentram, lantaran sudah melaksanakan sholat, di tengah panas dan ramainya hiruk-pikuk perkotaan, kami menuju ruang makan. Dan peserta lain ternyata sudah banyak yang mendahului. Akhirnya,  kami ber-enam bergilir mengambil nasi serta ikanya. Lagi-lagi dengan tingkah yang penuh hati-hati. Kemudian, setelah kami menyantap makanan mewah ala Restoran itu, kami memasuki ruangan dan duduk di tempat semula. Sementara saya meyakini kalau acara setelah ini pasti kompetisinya.

Tutor telah berada di depan para peserta yang cukup banyak itu, hingga ada peserta yang tak mendapatkan kursi sebelum panitia mencari kursi cadangan. Sesi kedua di mulai. Tutornya pun bukan orang lain. Hanya materinya yang tidak sama dari sesi pertama. Materi bisnis. Ya, sesi kedua berisi tentang bagaimana menjadi pembisnis KBIH,  akumulasi jama’ah umroh dan haji berikut laba yang dapat diperoleh, bahkan juga menjelaskan bisnis travel jama’ah haji. Saya mulai curiga ketika sang tutor membahas masalah bisnis. Pada akhir penjelasannya, ia menjelaskan begini: “ada beberapa bonus yang bisa anda dapat di KBIH “arofahmina” ini, diataranya adalah ketika anda dapat membawa 10 orang jama’ah ke KBIH saya ini, maka anda mendapatkan 1 tiket umroh gratis”. Waw, setelah saya mendengarkan ungkapan ini, rasa curiga semakin kuat. Bagaimana tidak, sepuluh orang jama’ah jika laba setiap jama’ah 5 juta misalnya, maka jumlah laba yang didapat adalah 50 juta. Sementara biaya umroh satu orang, kisaran 20-30 juta. Duduk manis tampa susah payah 20 juta masuk kantong Cuma-Cuma. Orasi Bisnis kan?.

Akhirnya, sampai acara selesai, tidak juga diumumkan kapan seleksi itu di mulai. Dan di ujung orasinya, totur yang sekaligus sebagai pemiliki KBIH itu menyampaikan bahwa peserta terbaik akan diseleksi oleh panitia melalui biodata yang telah diisi oleh peserta diawal acara tadi. Allamak, ternyata hanya diseleksi melalui biodata. Pikir saya ada ujian ketat, baik pertanyaan teoritis maupun praktis. Karena hadiahnya Umroh Gratis. Halah, akhirnya saya berpikir mana mungkin seleksi melalui biodata bisa mendapat hadiah Umrah Gratis. Kemprus. Teman-teman saya pun juga menggerutu. Anehnya lagi, sertifikat yang dijanjikan di undangan ternyata disuruh diambil di kantor cabang KBIH dan bertempat di kota Malang. “ma’af ya para hadirin, sertifikat yang saya janjikan lupa tidak saya bawa.  Anda dapat mengambilnya di kantor kami”. Ungkap dia di akhir orasi bisnisnya. “halah, kemprus, mana bisa acara besar dengan banyak panitia bisa lupa, bilang aja agar peserta tahu kantornya, sehingga enak kalau ingin mendaftarkan jama’ah haji, gituu.”. Pikir saya.

Setelah acara selesai, satu-satunya yang dinantikan tak kunjung diumumkan. Uang transport. Ya, ternyata bayangan imajinasi saya dan teman-teman tak dapat dihidupkan. Jangankan imajinasi berbaju putih separuh badan guna melaksankan umroh, biaya untuk bensin pun hanya menjadi sebuah imajinasi yang tak tertulis. Sabar, sabar sabar,.


Dengan memaksakan hati untuk ikhlas, akhirnya, saya dan teman-teman pulang dengan tangan kosong. Dan kembali ke habitatnya masing-masing.  

Kamis, 21 April 2016

Kartini: Sepak Terjang Dalam Pendidikan Islam





Nama Kartini, sudah tidak asing lagi dalam negeri pertiwi ini. Ia merupakan sosok perempuan yang berusaha mengangkat status perempuan yang awalnya hanya sebagai pendamping dan pelayan lelaki. Namun, atas propaganda yang dilakukan oleh Kartini banyak mengalami perubahan. Kartini sebenarnya termasuk keturunan ningrat, ia mengetahui betul bagaimana harus taat kepada adat di lingkungan foedalnya. Seperti kebiasan perempuan ketika telah berumur 12 tahun harus dipingit, ditempatkan di dinding-dinding kadipaten. Ia merasakan betul bagaimana sengsaranya wanita yang dipingit. Tidak dapat keluar untuk mengembangkan pengetahuannya. Padahal, Kartini mempunyai cita-cita besar dalam hidupnya, sehingga ia senantiasa berusa ingin lepas dari penjara adat yang mengikatnya. Sekalipun sebenarnya hal ini mempunyai resiko yang besar, yakni cela’an masyarakat.

Awalnya, Kartini merupakan orang selalu mengkritisi ajaran Islam. Ia meranggapan bahwa Islam terlalu mendiskriminasi kaum perempuan terlebih dalam hal poligami. Hal ini disebabkan oleh karena Kartini waktu itu masih belum mengenal Islam begitu jauh dan lebih memprioritas akal. Sehingga pada akhirnya mengakui akan Islam dan mendapatkan ketenangan dalam dirinya setelah mendengarkan ceramah dari pamannya sendiri yang sempat menjadi bupati Demak, Kiai Shaleh Darat. Kia Sholeh menjelaskan makna kandungan yang tedapat dalam surat Al-Fatihah. Sejak itulah, Kartini sangat taat dalam beragam bahkan sesekali mendengarkan surat-surat dalam Al-Qur,an ia menemukan nuansa Religi Islam berupa tasawuf, teologi dan syariat.

Dengan semakin lekatnya ajaran Islam dalam diri Kartini, lambat laun kartini juga tidak kalah dalam memperjuangkan kaum perempuan untuk bisa belajar Ilmu Agama Islam. Ia beranggapan bahwa di Islam banyak sekali tokoh dari perempuan. Bayangkan, di Zaman Nabi Muhammad saw, ada sekitar 700 sahabat dari kalangan perempuan yang berstatus menjadi perawi hadits. Tidak hanya itu, para sahabat nabi, dari kalangan perempuan juga ada yang ikut berperang, berdagang dan mengurus rumah tangga.

Seorang Kartini, gadis lugu yang lahir di tanah Jepara ini, sekalipun latar belakang pendidikannya dari negara Eropa. Namun, seluruh ilmunya hanya diresap dari bagian positifnya saja. Ia tetap setia dan taat terhadap kepercayaan Agamanya. Bahkan ia senantiasan terus ingin mengembangkan pendidikan agama Islam terkhusus untuk kalangan wanita.

Pendidikan yang ingin digagas oleh Kartini waktu itu, bukan untuk menyaingi kaum laki-laki sebagaimana yang terjadi di Eropa, melainkan kartini ingin mengambil sisi positis dalam mencerdaskan kaum wanita demi untuk mewujudkan bangsa dan rakyatnya. Ada beberapa gagasan pendidikan yang  ingin didiran oleh Kartni waktu itu, diantaranya adalah dengan membuat instansi pendidikan yang tidak terikat oleh paraturan Hindia Belanda. Dengan demikian, ia bebas dalam mengatur dan mengembangkan pendidikan sesuai dengan yang diinginkan. Seperti ia membuat pengajian di surau-surau,  dan Masjid.

Raden Ajeng Kartini, begitulah cara ia memporak-porandakan cara berpikir kaumnya dengan membuka cakrawala baru meyongsong kemajuan bangsa ini melalui kaum hawa. Kini, telah kita rasakan bahwa kaum wanita mempunyai paradigma dalam mengembangkan kemampuan dan bakatnya. Semoga ia selalu dikenang dan dilimpahkan atas perjuangannya. 

Selamat Hari Kartini!!!


Disarikan dari buku Kartin Nyantri. 

Selasa, 19 April 2016

Tafakkur Jalan Menuju Ma'rifat Billah





Judul Buku          : Al-Hikmah Fi Makhluqatillah
Pengarang          :  Al-Imam Abu Hamid Al-Ghazali
Penerbit              : Dar al-Ihya’ Al-Ulum-Bairut
Halaman              : 131
Peresensi            : Abdurrofik


Manusia sebagai makhluk yang telah diberikan anugrah untuk berfikir, sangat disayangkan jika melewatkan berpikir hal kecil di sekitarnya. Bahkan, terkadang manusia hanya sebagai pelaku komsumtif terhadap ciptaan tuhan lainya. Tanpa merenung dan berpikir bahwa di dalamnya terkandung hikmah dan kenikmatan yang patut disyukuri. Lebih dari pada itu, ciptaan Tuhan yang hampir setiap detik kita nikmati juga sebenarnya dapat menambahkan keimanan, jika senantiasa direnungkan dan diresapi.

Karya Al-Ghazali yang berjudul Al-Hikmah Fi Makhluqotillah ini dapat mengajak pembacanya menyadari dan merenung tentang hikmah dibalik ciptaan-ciptaan Tuhan. Karya Al-Ghazali yang terdiri dari 131 halaman ini, mengupas segala hikmah diciptakannya makhluk-makhluk Tuhan seperti Langit, Matahari, Bulan, Bintang, Udara, Bumi, Api, Manusia, Burung dan Hewan Melata lainnya.
Sebelum mengupas lebih jauh masalah hikmah penciptaan makhluk, dalam pendahuluannya, Al-Ghazali menjelaskan betapa pentingnya seorang yang telah diberikan akal untuk senantiasa berpikir. Bahkan, ia juga menjelaskan dengan perenungan semacam ini juga dapat mengantarkan seorang pada level al-Ma’rifah Billah (Mengetahui Allah secara nyata).

Sebagaimana ciri khas Al-Ghazali, yang selalu menganalogikan sebuah pernyataan dengan kejadian sekitar, dengan tujuan agar mudah dipahami, dalam karya ini juga tidak ketinggalan. Ia meyebutkan bahwa ketika kita berpikir tentang alam ini, maka ibarat seperti bangunan yang mana salah satu komponennya saling membutuhkan. Langit terhampar di atas, seperti atap rumah.  Bumi seperti lantainya. Bintang ibarat lampu yang dapat menerangi ruangan. Sementara menusia seperti pemilik rumahnya.

Dalam sub bab selanjutnya, Al-Ghazali menejelaskan hikmah diciptakannya matahari. Ia menjelaskan bahwa seandainya tidak ada matahari tentu siklus kehidupan manusia baik dalam ranah dunia maupun agama tidak akan terjadi. Bagaimana tidak, dengan matahari seorang dapat menikmati indahnya cahaya, melihat warna disekitarnya, dan tentu juga akan sulit manusia akan menjalani kehidupan dengan tanpa bantuan matahari. Belum lagi untuk tumbuhan, kita tahu bahwa setiap tumbuhan butuh cahaya ultraviolet untuk berfotosistesis. Dan cahaya itu tidak lain adalah cahaya matahari.

Dalam sub-sub bab selanjutnya, secara terperinci Al-Ghazali menjelaskan hikmah penciptaan makhluk tuhan seperti bintang, bulan, udara, manusia, bumi, api, hewan mamalia, bahkan sampai pada hewan kecil seperti semut pun tidak ketinggalan diuraikan. Yang pada intinya adalah bahwa sebagai mana Allah telah menyinggung dalam Al-Qur’an, tidak ada satupun makhluk yang diciptakan dengan sia-sia.


Dengan demikian, karya Al-Ghazali ini dapat mengantarkan kepada pembacanya untuk senantiasa bertafakkur dan merenung tentang keagungan ciptahan Tuhan. Sehingga, jika kita arahkan pada pendidikan umum yang ada saat ini, seperti pelajaran biologi yang menjelaskan berbagai macam tumbuhan baik dikotil maupun yang monokotil, dan juga menjelaskan organ tubuh manusia yang terdiri dari berbagai macam sel. Pelajaran geografi yangmenjelaskan berbagai macam unsur bumi serta iklim di dalamnya. Pelajaran fisika yang menjelaskan kandungan dan berat suata benda disekitar serta komponen antariksa dan pelajaran umum lain yang mengupas tentang kehidupan dunia jika dikaitkan dengan ilmu agama maka tentu juga akan menanbahkan keimanan. Dan bukan hal yang mustahil, jika pelajaran umum juga dapat dijadikan pelantara seorang untuk mencapai derajat Ma’rifat Billah. 

Kamis, 31 Maret 2016

Bernostalgia Tidak Cakap Bahasa Inggris

Di sela-sela kegiatan, tidak sengaja saya membaca koran Jawa Pos edisi Kamis, 31 Maret 2016. Pandangan pertama pada koran tersebut, saya menyoroti gambar seorang dosen memakai baju pengukuhan berwarna hitam. Saya menduga acara tersebut acara wisuda untuk mahasiswa. Dan ini yang membuat saya tertarik untuk membaca. Lantaran memang saya juga akan melaksanakan acara pengukuhan sebagai wisudawan strata 1 hari Sabtu besok. 
Namun, setelah saya membaca, dugaan saya meleset. Acara tersebut ternyata acara pengukuhan guru besar di Universitas Islam Negeri Malang. Dijelaskan dalam berita tersebut, dosen yang mendapat pengukuhan itu bernama Prof. Dr. H. Junaidi Mistar. Ia berasal dari Kabupaten Lumajang. Kabupaten yang juga merupakan tempat kelahiran saya. Kagum. Bangga. Wajar, karena memang kecenderungan tanah kelahiran pasti ada. 

Baiklah, sebenarnya yang membuat saya merenung bernostalgia adalah setelah saya membaca berita yang bertajuk "Pembelajaran Bahasa Inggris Tak Efektif" itu  sampai tuntas. Prof. Dr. H. Junaidi Mistar yang telah diangkat sebagai guru besar bidang Ilmu Pendidikan Inggris itu memberikan pengarahan dalam sambutannya. Ia menyebutkan bahwa pendidikan bahasa Inggris saat ini masih bersifat konvensnional. Dan ia selalu merasa terusik oleh masalah-masalah yang sudah dianggap biasa ini. Terbukti saat ini siswa belajar bahasa Inggri mulai dari SD sampai SMA yang kurang lebih selama 9 tahun sebagai besar masih belum juga cakap dalam berbahasa Inggris. Dan ia membuat tesis semacam itu bukan hanya berasumsi melainkan ia telah melakukan beberapa penelitian. dan hasilnya memang begitu. Sehingga ini perlu trobosan dalam membentuk strategi baru. Salah satu menurutnya adalah seperti membentuk strategi ketertarikan siswa dalam memahami kosakata dan lain sebagainya yang pada intinya adalah siswa dituntut untuk cakapa dalam berbahasa Inggris, artinya tidak hanya dapat mengerjakan soal. 

Mengamati berita tersebut, saya langsung merenung. Dan tak lama dari itu, saya dengan tanpa ragu  mengiyakan tesis tersebut. Karena sejauh saya alami, sewaktu saya masih sekolah ditingkat Dasar, Menengah dan Atas ternyata masih belum juga dapat berkomunikasi dengan orang asing. Dan ini juga terjadi pada sebagian besar dari teman-teman saya. 

Kemudian, saya berusaha mencari perbandingan. Dan ternyata, ada salah satu dari teman saya yang dulunya hanya mengerti kalimat I Love You,namun setelah ia mengikuti kursus selama 1 tahun, dan memang budayanya berbahasa Inggris ternyata ia sekarang dapat dengan santai dan cakap berbicara dengan orang asing. Tidak hanya itu, kini ia telah membuka tempat kursus  Bahasa Inggris sendiri dan pesertanya juga dapat dibilang banyak. 

Mari kita bayangkan, selisih antara 1 tahun dengan 9 tahun sudah pasti tidak sebanding. Oke, mungkin ada yang menanggapi bahwa pendidikan di sekolah yang diajarkan tidak hanya Bahasa Inggris, namun banyak sekali pelajaran yang harus disampaikan kepada peserta didik, seperti Matematika, IPA, IPS dan lain sebagainya. Namun, jangka waktu 9 tahun apa belum cukup untuk menyeimbangkan dengan kursus bahasa Inggris yang hanya ditempuh 1 tahun tersebut? Saya kira sangat cukup sekali. Bahkan bisa jadi lebih. Hanya saja bagaimana metode dan strategi yang harus dilakukan dalam belajar-mengajar di setiap tingkatan.  Selamat merenung! 

Selasa, 15 Maret 2016

Kulturisasi Ijma' Sebagai Sumber Hukum



Dalam kehidupan sosial masyarakat khususnya, kini telah tergantung pada kesepakatan suatu organisasi atau kelompok tertentu. Sehingga menghasilkan sebuah kesepakatan dan bahkan sampai menjadi sebuah ideologi. Dengan demikian, peran  kesepakatan menjadi hal yang urgen untuk dipertimbangkan dari segala aspek. Apapun itu bentuknya. Dan tentunya secara subyektif yang mempunyai peran penting dalam hal tersebut adalah pelaku kesepakatan. Seperti apa bentuk hukum yang dihasilkan, tergantung bagaimana siklus yang terjadi di meja kesepakatan. 

Kesepakatan, jika ditinjau dalam kajian ilmu Ushul Fiqh disebut dengan istilah Ijma'. Dulu, ijma' merupakan konsensus dari para mujtahid yang telah memenuhi syarat-syarat tertentu. Yang pada akhirnya akan membuahkan  hukum yang belum jelas diterangkan dalam nash Al-Qur'an dan Hadits. Dan statemen masing-masing mujtahid tentu tidak akan lepas dari pengaruh sosio-kulturnya. Sehingga wajar, ketika dalam suatu permasalah para mujtahid terdapat kontroversi dalam merumuskan sebuah hukum. 

Al-Amidi menyebutkan bahwa Ijma' merupakan kesepakan Ahlu Halli wal aqdi dari ummat Muhammad dalam membahas sebuah hukum tertentu. Sehingga dalam forum tersebut hanya melibatkan orang-orang yang memang ahli dalam bidang ilmu fiqh tanpa melibatkan orang awam. Hal ini terus berkembang dengan sistem yang berbeda-beda sampai saat ini. Kini kita kenal dengan kesepakatan para petinggi negara, organisasi keagamaan, LBM NU. Tajdid Muhammadiyyah dan lain sebagainya. Tentu yang berada di dalamnya merupakan orang-orang yang memang ahli dalam mengurai dan membandingkan sebuah statamen para ulama', terlebih dalam memahami Al-Qur'an dan Hadits sebagai sumber segala bentuk hukum. 

Namun demikian, pelaku ijma' seharusnya bijak dalam merumuskan sebuah kesepakatan atau hukum terntu. Sebab, konsensus para pelaku ijma' akan menjadi sumber hukum dan pedoman hidup terlebih bagi orang-orang awam. KH. Abdurrahman Wahid menekankan bahwa kebebesan dalam bicara dalam sebuah kesepakan harus benar-benar dimanfaatkan. Artinya, konsensus yang telah dibuat dapat menjujung tinggi hak dan kewajiban sebuah bangsa. Sehingga keputusan tidak hanya diambil dari suara terbanyak, namun idealnya adalah harus mempertimbangkan dalam segala aspek sosial dan budaya setempat. 

Dalam konteks negara Indonesia, kita telah kenal dengan para pendiri negara yang telah menghapus ketentuan Syari'at Islam sebagai ideologi negara. Jelas, kesepakatan ini bukan untuk mengesampingkan Islam malah justru sebenarnya untuk melindungi Islam itu sendiri. Kesepakatan ini tentu untuk mengangkat hak dan kewajiban bangsa mengingat di Indonesia terdiri dari berbagai macam penganut agama. Dan ini menojolkan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. 

Atas dasar ini, praktek forum kesepakatan semisal sidang DPR, MPR atau majelis lain yang mengatasnamakan perwakilan rakyat, selayaknya harus meniru bagaimana yang telah dilakukan oleh para pendahuluannya. Tidak hanya itu, lembaga yang bertugas untuk menentukan hukum dalam agama Islam seperti MUI juga harus berangkat dari sebuah kesepakatan yang tidak memihak. Dalam artian, selama tidak ditetapkan dalam Al-Qur'an dan Hadits, produk hukum selayaknya tidak lepas dari maslahah umat.